4/1/16

Pertumbuhan & Perkembangan Nasionalisme di Jepang

Admin Perpusku
Loading...

Sejak pemerintahan Shogun Tokugawa (pada abad ke-17), Jepang melakukan politik isolasi, artinya menarik diri dari dari pengaruh asing-Barat. Politik isolasi ini mulai dijalankan oleh Tokugawa Ieyasu (1639) dan diteruskan oleh para penggantinya. Tujuan politik isolasi adalah untuk menjamin tetap tegaknya pemerintahan Shogun dan mencegah masuknya pengaruh asing(Barat).

Selama Jepang menutup diri, dunia Barat terus melaju pesat dengan industri dan teknologinya. Untuk itu bangsa-bangsa Barat membutuhkan daerah pasaran hasil Industri. Amerika Serikat merupakan salah satu bangsa Barat yang ingin masuk ke jepang untuk membuka hubungan dagang.
Pertumbuhan & Perkembangan Nasionalisme di Jepang
Pada tahun 1846, Amerika Serikat mengirimkan utusannya ke Jepang dibawah pimpinan Laksmana Biddle, tetapi ditolak oleh Shogun. Pada tahun 1853, Amerika Serikat mengirimkan lagi utusan lengkap dengan kapal perangnya di bawah pimpinan Matthew Commodore Perry. Perry menghadap Shogun dan meminta agar Jepang mau membuka kota-kota pelabuhannya untuk perdagangan internasional. Pemerintah Jepang minta waktu untuk memikirkan permintaan Amerika Serikat. Perrt bersama rombongannya kembalike Amerika.

Pada tahun 1854, rombongan Perry lengkap dengan tujuh kapal perangnya mendarat lagi di Yedo, dan berhasil memaksa Shogun Iyesada (1853-1858) untuk menandatangani Perjanjian Kanagawa (31 Maret 1854) yang isinya: Kota pelabuhan Shimoda dan Hokodate dibuka untuk perdagangan asing. Dengan demikian, runtuhlah politik isolasi Jepang sehingga negara tersebut terbuka untuk bangsa asing.

Sejak saat itu, Jepang menyadari akan ketertinggalannya dengan bangsa-bangsa Barat. Yang menjadi sasaran kemarrahan rakyat Jepang adalah pemerintahan Shogun. Yoshinobu dipaksa turun tahta dan menyerahkan kekuasaannya kepada Kaisar Mutsuhito (Kaisar Meiji) pada tanggal 8 September 1867. Secara resmi Kaisar Meiji memerintah Jepang dari tanggal 25 Januari 1868 sampai dengan 30 Juli 1912.

Nasionalisme Jepang
Terbukanya Jepang bagi bangsa asing yang disusul dengan runtuhnya kekuasaan Shogun dan tampilnya Kaisar Meiji (Meiji Tenno), menandai bangkitnya nasionalisme Jepang. Pada tanggal 6 April 1868, Kaisar Meiji memproklamasikan Charter Outh (Sumpah Setia) menuju Jepang baru yang terdiri atas lima pasal.
1. Akan dibentuk parlemen.
2. Seluruh bangsa harus bersatu untuk mencapai kesejahteraan.
3. Adat istiadat yang kolot dan yang menghalangi kemajuan Jepang harus dihapuskan.
4. Semua jabatan terbuka untuk siapa saja.
5. Mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin untuk pembangunan bangsa dan negara.

Untuk mencapai cita-cita tersebut maka Meiji Tenno melaksanakan pembaharuan atau restorasi. Itulah sebabnya Kaisar Meiji kemudian dikenal dengan Meiji Restorasi. Restorasi yang dilakukan meliputi segala bidang, yaitu politik, pendidikan, ekonomi, dan militer.
1. Bidang Politik
Langkah pertama yang diambil oleh Meiji Tenno adalah memindahkan ibu kota Jepang dari Kyoto ke Yedo yang kemudian diganti menjadi Tokyo (yang berarti ibu kota timur). Selanjutnya, diciptakan bendera kebangsaan Jepang Hinomoru dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo. Shintoisme dikukuhkan sebagai agama nasional.
Jabatan Shogun dan daimyo dihapuskan (1868) dan samurai dibubarkan. Para daimyo kemudian diangkat menjadi pegawai negeri, sedangkan para samurai dijadikan tentara nasional. Di bawah pimpinan Ito Hirobumi (kemudian dikenal sebagai Bapak Konstitusi Jepang) pada tahun 1889 berhasil disusun konstitusi Jepang.

2. Bidang Ekonomi
Pembangunan di bidang ekonomi meliputi bidang pertanian, perindustrian, dan perdagangan, namun yang paling berhasil di bidang perindustrian dan perdagangan. Perdagangan Jepang maju pesat berkat dumping policy. Dumping policy adalah menjual barang-barang industri ke luar negeri dengan harga yang lebih murah, dengan tujuan untuk merebut pasaran.

Di bidang industri, muncul golongan baru yang disebut Zaibatsu yang terdiri atas keluarga Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, dan Jassude.

3. Bidang Pendidikan
Sistem pendidikan di Jepang meniru sistem pendidikan Barat. Dasar moral yang diajarkan di semua sekolah adalah Shintoisme dan Budhisme. Pada tahun 1871, dibentuklah Departemen Pendidikan. Selanjutnya pada tahun 1872 dikeluarkan Undang-Undang Pendidikan yang mewajibkan belajar untuk anak-anak umur 6-14 tahun dan bebas uang sekolah. Sistem pendidikannya adalah semimiliter.

4. Bidang Militer
Dalam pembaharuan angkatan perang yang mempunyai peranan besar adalah keluarga Chosu dan Satsuma. Keluarga Chosu menangani pembaharuan Angkatan Darat dengan mencontoh Prusia (Jerman), sedangkan keluarga Satsuma menangani pembaharuan Angkatan Laut dengan mencontoh Inggris. Bersamaan dengan modernisasi angkatan perang ini dihidupkan kembali ajaran bushido sebagai jiwa kemiliteran.

Latar Belakang Jepang Menjadi Negara Imperialis
Restorasi telah berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara Jepang. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara-negara Barat. Hal ini kemudian menimbulkan ambisi untuk melakukan imperialisme seperti negara-negara Barat. Adapun latar belakang Jepang menjadi negara imperialis adalah sebagai berikut:
1. Adanya pertambahan penduduk yang cepat.
2. Adanya perkembangan industri  yang begitu pesat, butuh daerah pasaran dan bahan mentah.
3. Adanya pembatasan migran Jepang yang dilakukan oleh negara-negara Barat.
4. Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga), dimana Jepang terpanggil untuk memimpin bangsa-bangsa di dunia.

Ambisi imperialisme Jepang menyebabkan Jepang terlibat dalam peperangan. Untungnya, dalam setiap peperangan Jepang selalu mendapatkan kemenangan. Perang China-Jepang I (1894-1895) dimenangkan oleh Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki (1895). Hasilnya, Jepang memperoleh Kepulauan Pescadores dan Taiwan. Perang Rusia-Jepang (1904-1905) dimenangkan oleh pihak Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Portsmouth (1905). Hasilnya Jepang mendapatkan Shakalin Selatan dan menggantikan posisi Rusia di Manchuria. Kemenangan Jepang ini memberikan pengaruh yang besar bagi tumbuhnya nasionalisme di negara-negara Asia dan Afrika.

Dalam Perang DUnia I, Jepang juga ikut terlibat perang dan memihak kepada Sekutu. Jepang berhasil menyapu pasukan Jerman di Cina ataupun di Pasifik. Itulah sebabnya setelah perang berakhir dengan kekalahan di pihak Jerman, Jepang memperoleh daerah bekas jajahan Jerman, seperti Shantung (di China), Kepulauan Marshal, Mariana, dan Caroline (di Pasifik). Dengan demikian, sampai dengan berakhirnya Perang Dunia I, Jepang telah berhasil menguasai banyak daerah. Jepang telah muncul menjadi negara besar.

Silakan Tinggalkan Komentar Anda :