4/2/16

Pertumbuhan & Perkembangan Nasionalisme di Cina

Admin Perpusku
Loading...

Mulai pertengahan abad ke-17 (1644), Cina berada dibawah kekuasaan dinasti asing, yaitu Dinasti Manchu. Di bawah pemerintahan Kaisar Kang Hsi (1662-1722) dan Chien Lung (1736-1796), Cina mengalami masa kejayaan. Akan tetapi, setelah meninggalkan kedua kaisar tersebut. Dinasti Manchu berangsur-angsur mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh.

1. Perang Candu (1839-1842)
Berawal dari aktifivitas Inggris yang memasukkan candu secara besar-besaran ke Cina tanpa membayar bea cukai menyebabkan Cina (Lin Tse Hu) membuang 20.000 peti candu seharga 9 juta dollar ke laut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Cina dan Inggris sehingga meletuslah Perang Candu. Perang berakhir dengan kemenangan Inggris dan diakhiri dengan Perjanjian Nanking, 29 Agustus 1842. Perjanjian Nanking isinya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Cina menyerahkan Hongkong kepada Inggris.
b. Cina mengganti kerugian perang sebesar 6 juta dollar.
c. Lima kota pelabuhan (Canton, Amoy, Foochow, Ningpo, dan Shanghai) dibuka untuk perdagangan asing.

Kekalahan Cina dalam Perang Candu ini mengakibatkan martabat bangsa Cina menurun dan suramnya Dinasti Manchu di dunia Internasional.

2. Pemberontakan Tai Ping
Pemberontakan ini dilakukan oleh rakyat Cina yang bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti Manchu. Adapun sebab-sebab timbulnya pemberontakan Tai Ping adalah sebagai berikut:
a. Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchu akibat kekalahannya dalam Perang Candu.
b. Rakyat yang sudah menderita masih dibebani pajak yang tinggi untuk mengganti kerugian perang.
c. Timbulnya semangat nasionalisme.
d. Berkembangnya agama Kristen.

Pemberontakan Tai Ping meletus pada tahun 1851 di Kwangsi di bawah pimpinan Hung Hsiu Chuan. Dengan paham Kristennya, Hung ingin membebaskan rakyat Cina dari kekuasaan Dinasti Manchu yang korup dan bobrok. Di Nanking, Hung Hsiu Chuan berhasil mengankat dirinya menjadi raja dengan gelar Tien Wang (Kaisar Langit) dan kerajaannya dinamakan Tai Ping Tien Kuo (Kerajaan Surga yang Abadi). Namun pemberontakan ini akhirnya berhasil dipadamkan oleh Dinasti Manchu pada tahun 1864.

3. Perang Cina-Jepang 1 (1894-1895)
Lama sebelum perang berlangsung, Korea adalah negeri jajahan Cina. Namun mulai 1894 Jepang menaruh perhatian yang sangat besar kepada Korea sehingga berusaha merebutnnya dengan melawan Cina. Perang berakhir dengan kemenang Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki, 17 April 1895. Isi Perjanjian Shimonoseki adalah sebagai berikut:
a. Cina mengakui kemerdekaan Korea.
b. Cina harus menyerahkan Kepulauan Pescadores dan Taiwan kepada Jepang.
c. Cina harus membayar ganti kerugian besar sebesar 200 juta tael.

4. Pemberontakan Boxers
Gerakan Boxers semula anti terhadap Dinasti Manchu, namun oleh Kaisar Janda Tua, yakni Ibu Tzu Hsi, kemudian dibujuk supaya anti terhadap Barat. Boxes mengepung perwakilan Barat yang ada di Peking.
Karena merasa terancam, negara-negara Barat yang mempunyai perwakilan di Peking kemudian membentuk pasukan internasional. Berkat pasukan internasional gerakan Boxers berhasil dipadamkan dan diakhiri dengan Protokol Peking 1901.

Timbulnya Nasionalisme Cina
Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Cina adalah sebagai berikut.
1. Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchu. Dinasti Manchu yang pernah membawa kejayaan Cina, kemudian menjadi pudar setelah kedua kaisar besar (K'ang Hsi dan Ch'ien Lung) meninggal. Akibatnya, lenyap pula kemakmuran Cina.
2. Pemerintahan Manchu dianggap kolot dan telah bobrok.
3. Adanya korupsi dan pemborosan yang merajalela, terutama di kalangan Istana Manchu.
4. Kekalahan Cina dalam Perang Cina–Jepang I.
5. Munculnya kaum intelektual Cina. Mereka telah mengenal pahampaham Barat, seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. Dari kaum intelektual inilah kemudian muncul cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Manchu.

Ajaran Dr. Sun Yat Sen
Kekalahan demi kekalahan diderita oleh Cina akibat pemerintahan Manchu yang makin lemah. Hal ini menyadarkan rakyat Cina, terutama kaum muda untuk bangkit menyelamatkan bangsa dan negaranya. Dari kelompok inilah, kemudian tampil salah seorang tokoh nasional Sun Yat Sen dengan ajarannya San Min Chu I (Tiga Asas Kerakyatan), yaitu
1. Min T'sen (kebangsaan atau nasionalisme).
2. Min Tsu (kerakyatan atau demokrasi).
3. Min Sheng (kesejahteraan atau sosialisme).

Dengan asas San Min Chu I, Sun Yat Sen bercita-cita setelah Manchu runtuh akan dibentuk satu pemerintahan pusat yang demokratis. Di samping itu, akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Cina sejajar dengan negara-negara Barat. Ia berhasil mengadakan pendekatan kepada rakyat dan menghimpun kekuatan rakyat di Cina Selatan untuk menggulingkan Manchu.
Pada tanggal 10 Oktober 1911 meletuslah revolusi di Wuchang (Wuchang Day) di bawah pimpinan Li Yuan Hung dan berhasil menggulingkan kekuasaan Manchu. Itulah sebabnya, tanggal 10 Oktober 1911 kemudian dijadikan hari Kemerdekaan Cina. Dengan Revolusi Cina 1911, berarti runtuhlah kekuasaan Manchu. Selanjutnya, pada tanggal 1 Januari 1912 Sun Yat Sen dipilih sebagai Presiden Cina yang baru. Saat itu, wilayah Cina baru meliputi wilayah Cina Selatan dengan Nanking sebagai ibu kotanya.

Cina Utara diperintah oleh Kaisar Hsuan Tsung (yang masih kanak-kanak) dengan didampingi oleh Yuan Shih Kai menyerahkan kekuasaan kepada rakyat Cina (12 Februari 1912). Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Manchu di Cina. Wilayah Cina Selatan dan Cina Utara berhasil dipersatukan. Yuan Shih Kai yang turut menandatangani penyerahan kekuasaan dan diberi kekuasaan untuk mengaturnya. Ia pun berambisi besar untuk menjadi presiden. Demi tetap tegaknya Republik Cina dan untuk terhindar dari perang saudara maka Sun Yat Sen mengundurkan diri dari jabatan presiden (15 Februari 1912) dan menyerahkannya kepada Yuan Shih Kai. Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Canton pada bulan Agustus 1912 dan mendirikan Partai Kuo Min Tang (nasional) dengan asas San Min Chu I.
Pada perkembangannya, setelah Yuan Shih Kai menjadi presiden, ia bertindak diktator seperti kaisar. Pada tahun 1916, Yuan Shih Kai meninggal sehingga memberi kesempatan Sun Yat Sen kembali memimpin Cina Selatan. Di Cina Utara kemudian berdiri Partai Kung Chang Tang (komunis) di bawah pimpinan Li Li-san sebagai tandingan Partai Kuo Min Tang. Sun yat Sen bercita-cita untuk menyatukan seluruh Cina, namun sayang citacitanya belum terwujud telah meninggal dunia ( 1925) dan digantikan oleh Chiang Kai Shek.

Silakan Tinggalkan Komentar Anda :